Senin, 21 Juni 2021

Strategi Reaktivasi Pariwisata Kepulauan Riau Dipersiapkan

Lintas Kementerian/Lembaga pertajam persiapan pembukaan wisata Batam-Bintan
Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) gelar rapat koordinasi bersama dengan kementerian dan lembaga (K/L) serta industri terkait, untuk membahas strategi reaktivasi pariwisata di Kepulauan Riau (Kepri).

Ini sebagai upaya membuka perbatasan Batam-Bintan sebagai pilot project dengan negara tetangga, yaitu Singapura, dengan tetap mematuhi protokol kesehatan (prokes). Seperti arahan Presiden Jokowi  pada 16 Maret lalu, disebutkan sektor pariwisata akan di buka secara bertahap mulai Juni atau Juli, dengan memperhatikan beberapa indikator tertentu, antara lain kurva penyebaran COVID-19 harus  melandai, vaksinasi massif, penerapan prokes yang ketat dan disiplin, serta kesiapan dari destinasi wisata.

Rakor digelar secara luring dan daring dari Batam (15/4), dihadiri Sekretaris Kemenparekraf/Sekretaris Utama Baparekraf Ni Wayan Giri Adnyani, Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscaya, Deputi Bidang Kebijakan Strategis Kemenparekraf/Baparekraf R. Kurleni Ukar, dan Plt. Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur Kemenparekraf/Baparekraf Frans Teguh.

Faktor prokes penanganan Covid-19 jadi penentu reaktivasi pariwisata

Selain itu, hadir pula Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa RI untuk Republik Singapura Suryo Pratomo, Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri Cecep Herawan, Direktur Jenderal Amerika dan Eropa Kementerian Luar Negeri Ngurah Swajaya dan Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Kementerian Luar Negeri Siti Nugraha Mauludiah.

“Kita ingin mengetahui mulai dari kedatangan wisatawan mancanegara, bagaimana first impression_nya. Namun, yang tidak kalah penting adalah ketika meninggalkan Kepri, seperti ketika kita menonton film yang paling diingat adalah ending from the story. Jadi, ini memang harus end to end,” ujar Deputi Bidang Pemasaran Kemenparekraf/Baparekraf Nia Niscaya.

Kemenparekraf/Baparekraf memaparkan sejumlah  langkah untuk reaktivasi pariwisata di Kepri. Pertama, kesiapan destinasi menyusun peta zona dan rute aman berwisata. Karena tidak semua destinasi bisa dibuka umum. Harus dipilih dan ditentukan mana dibuka untuk pilot project, mana yang tidak. Kedua vaksinasi, harus semaksimal mungkin agar herd immunity dapat tercipta, baik untuk penduduk lokal, pekerja pariwisata, maupun tenaga kesehatan.

Terakhir, sertifikasi end to end. Yang dimaksud adalah penerapan prokes, mulai dari ketibaan di negara tujuan, proses imigrasi, pengambilan bagasi, penyewaan mobil, check in dan check out hotel, mengakses layanan-layanan di destinasi wisata, penerbangan pulang, dan ketibaan kembali di negara asal.

 

Yang tidak kalah penting adalah persiapan dari sisi kesehatan. Dari Dinas kesehatan Provinsi Kepri menyampaikan, ada indikator yang harus dipenuhi. Tak hanya sekedar zona hijau atau zona kuning, tapi bagaimana rata-rata penambahan kasus mingguan menurun. Selain itu, bed occupancy di bawah 60 persen, sebagai jaminan jika ada wisatawan yang sakit maka akan ditangani dengan baik.

Lalu, tempat tidur ICU occupancy rate juga dipantau, positivity rate juga harus di bawah 5 persen, serta penerapan prokes di ruang publik, kami bekerja sama dengan Satpol PP setempat, karena mereka merupakan garda terdepan untuk mengawal ketaatan publik dalam menerapkan protokol kesehatan.

Sementara Staf Ahli Menteri Bidang Sosial, Budaya, dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Kemenlu Siti Nugraha Mauludiah menekankan, reaktivasi pariwisata hanya dapat dilakukan apabila Batam-Bintan memenuhi indikator siap dan aman, guna mencegah peningkatan Covid-19. “Kami berharap agar dalam waktu dekat seluruh kriteria reaktivasi ini dapat dicapai oleh Batam dan Bintan,” jelas Siti Nugraha (vh/dh).